Indonesia dan Malaysia akan Samakan Standar Produk Halal

Sukabumi,  25/11/2017 08:47



Ekbisinews, Jakarta -- Indonesia dan Malaysia menggelar pertemuan Annual Consultation Indonesia-Malaysia ke-12 yang berlangsung di Kucing, Malaysia pada Rabu (22/11) lalu. Dalam pertemuan itu, kedua negara
sepakat untuk segera menyamakan standar produk halal mereka agar produk dari kedua pihak dapat diterima di pasar masing-masing.

Menteri Perdagangan RI Enggartiasto Lukita mengatakan, pemerintah akan mengawal agar Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH), selaku otoritas penyelenggara jaminan produk halal, dapat segera melakukan Mutual Recognition Agreement (MRA) untuk membahas penyamaan standar produk halal. "Kerja sama dalam hal produk dan logo halal ini diharapkan dapat mendorong pengembangan industri produk halal di Indonesia, mengingat prospek perdagangannya yang sangat besar saat ini," kata Mendag, lewat keterangan tertulis, Jumat (24/11).



Annual Consultation Indonesia-Malaysia merupakan pertemuan bilateral tertinggi antara kedua negara di tingkat kepala pemerintahan. Pertemuan tersebut membahas sejumlah masalah yang kerap terjadi dalam hubungan kedua negara seperti ekonomi dan perdagangan, pendidikan, pertahanan, persoalan keimigrasian, hingga kerja sama sosial dan budaya.

Sebelumnya, Kementerian Agama RI telah meresmikan Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) pada Oktober lalu. Badan ini nantinya akan menggantikan peran Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM-MUI) dalam melakukan sertifikasi produk halal di Indonesia.

Berdasarkan data gabungan pengusaha makanan dan minuman Indonesia (Gapmmi), produk makanan dan minuman di dalam negeri yang telah berlogo halal jumlahnya masih jauh dari angka 50 persen. Ketua Umum Gapmmi Adhi S Lukman mengatakan, baru segelintir perusahaan yang dengan sadar mengurus sertifkat halal meski sebenarnya permintaan akan produk halal di pasar global amat tinggi. "Saya beberapa kali ikut pameran di luar negeri, banyak yang mencari produk berlabel halal," tuturnya.

Menurut Adhi, salah satu kendala yang menghambat sertifikasi produk halal adalah masih terbatasnya kapasitas lembaga sertifikasi produk halal yang sebelumnya masih dipegang oleh Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM-MUI). Selama periode 2011-2015 saja, lembaga tersebut hanya mampu melakukan sertifikasi halalpada 33 ribu produk. Artinya, hanya 6.700 produk per tahun. Padahal, menurut catatan Gappmi, saat ini ada 1,6 juta industri pangan skala kecil dan mikro serta 6.000 industri pangan skala menengah dan besar yang ada di Indonesia.

HARGA EMAS: Dow Jones Ngebut, Logam Mulia Anjlok


Harga  emas berjangka di divisi Comex New York Mercantile Exchange berakhir turun tajam pada Selasa atau Rabu pagi WIB, dipicu penguatan di pasar saham Amerika Serikat.
Kontrak emas yang paling aktif untuk pengiriman Agustus turun US$21,30 atau 1,57%ke US$1.335,30 per ounce pada penutupan perdagangan Selasa (12/7/2016).

Logam mulia berada di bawah tekanan karena indeks Dow Jones Industrial Average naik 120,74 poin atau 0,66% ke 18.347,67 pada penutupan perdagangan Selasa atau Rabu pagi WIB/
Analis, seperti dikutip Antara,  mencatat bahwa ketika saham membukukan kerugian maka logam mulia biasanya naik, karena investor mencari tempat yang aman. Sebaliknya, ketika bursa  AS menguat logam mulia biasanya turun.

Namun demikian, data Departemen Tenaga Kerja AS yang menunjukkan lowongan pekerjaan jatuh menjadi 5.500 juta selama Mei menahan kejatuhan emas lebih dalam.
Analis mencatat angka itu pada April direvisi menjadi 5.845 juta. Sementara itu, tingkat perekrutan pekerja tidak berubah pada 3,5%.

Pasar sedang menunggu laporan ekspor dan impor AS, klaim pengangguran mingguan, indeks harga produsen, penjualan ritel, indeks harga konsumen, dan produksi industri.

Baitul Mal Salurkan Zakat Rp4,9 Miliar


Jakarta - Ekbisinews.com -- Baitul Mal Kota Banda Aceh menyalurkan zakat sebesar Rp4,9 miliar pada bulan Ramadhan 1437 Hijriah atau 2016.

"Sepanjang bulan Ramadhan kemarin, kami sudah menyalurkan zakat mencapai Rp4,9 miliar," ungkap Kepala Baitul Mal Kota Banda Aceh Safwani Zainun di Banda Aceh, Senin.
Zakat tersebut disalurkan kepada fakir miskin, anak yatim piatu, pekerja kebersihan serta tenaga kerja lepas di lingkungan Pemerintah Kota Banda Aceh.
Dari jumlah zakat yang disalurkan tersebut, kata Safwani, yang terbanyak disalurkan untuk fakir dan miskin.

Jumlahnya mencapai Rp4,2 miliar untuk 6.400 lebih fakir dan miskin.
"Zakat untuk fakir miskin tersebut sudah disalurkan jelang Lebaran lalu. Zakat ini disalurkan untuk membantu ekonomi masyarakat fakir miskin merayakan Idul Fitri 1437 Hijriah," kata Safwani Zainun.

Safwani menyebutkan terus berupaya meningkatkan kesadaran masyarakat di ibu kota Provinsi Aceh tersebut untuk menyalurkan zakat melalui Baitul Mal Kota Banda Aceh.
"Dengan meningkatnya masyarakat menyalurkan zakat melalui Baitul Mal, tentu akan berdampak positif bagi mereka yang menjadi penerima zakat. Apalagi zakat yang diterima ini disalurkan untuk meningkatkan ekonomi masyarakat miskin di Kota Banda Aceh," kata dia.

Oleh karena itu, Safwani mengajak masyarakat mempercayakan penyaluran zakatnya kepada Baitul Mal Kota Banda Aceh sehingga zakat tersebut bisa bermanfaat bagi mereka yang membutuhkan.
"Zakat tersebut akan kami salurkan untuk hal yang sifatnya produktif yang bisa meningkatkan ekonomi masyarakat. Dengan demikian, kegiatan ini bisa membantu pemerintah mengentaskan kemiskinan," kata Safwani Zainun.

Produk Halal Indonesia Diminati Pasar di Taiwan






Jakarta - Ekbisinews.com -- Produk makanan dan minuman (mamin) halal asal Indonesia berhasil mencatat transaksi sebesar 2,34 juta dolar AS dalam pameran Taiwan International Halal Expo. Kepala KDEI Taipei Arief Fadillah mengatakan, nilai pembelian ini menunjukkan produk halal Indonesia mampu bersaing di antara produk-produk halal dari belahan negara lainnya.

"Transaksi langsung selama pameran sebesar 1,17 juta dolar AS dan kontak bisnis yang harus ditindaklanjuti sebesar 1,15 juta dolar AS, terutama untuk produk biskuit Monde dan wafer. Selain itu, ada juga produk kopi dan bumbu dari CV Karya Omega," ujar Arief dalam keterangan tertulisnya, Rabu (13/7).

Arief menjelaskan, produk mamin Indonesia yang diminati oleh pengunjung antara lain, produk-produk dari PT Tri Bahagia Pratama seperti jus manggis, madu pahit, dan gravila leaf tea yang mendapatkan pembelian sebesar 462,9 ribu dolar AS. Kemudian, ada pula produk kornet sapi dan luncheon chicken sebesar 345 ribu dolar AS, dan produk olesan cokelat dan cokelat bubuk dari PT Sekawan Karsa Mulia mencatat transaksi sebesar 159,1 ribu dolar AS.


"Produk kosmetik juga mendapat transaksi. Produk dari CV Sekawan Kosmetik seperti body lotion, fruit soap, dan fanire hygine menuai transaksi sebesar 15 ribu dolar AS," kata Arief.

Menurut Arief, produk halal Indonesia kini memasuki pasar potensial, terutama di wilayah Asia Pasifik. Lebih dari setengah populasi Muslim berpusat di Asia, terutama di Indonesia, Turki, dan Malaysia. Taiwan dianggap menjadi hub penting untuk Asia Pasifik dalam mempromosikan produk halal.

Taiwan International Halal Expo merupakan salah satu pameran bertaraf internasional dengan variasi produk yang memiliki sertifikat halal mulai dari produk makanan, minuman kesehatan, bioteknologi, farmasi, dan kosmetik. Pameran ini diselenggarakan setiap tahun, bersamaan dengan pameran Food Taipei, Foodtech & Pharmatech Taipei, Taipei Pack, dan Taiwan HORECA. Indonesia yang diwakili 12 peserta tampil mewarnai blantika eksibisi bertaraf Internasional tersebut di area seluas 108 meter dengan mengusung tema “Trade with Remarkable Indonesia”.

Pada 2015, Taiwan International Halal Expo diikuti 1.642 eksibitor domestik dan internasional. Pengunjung yang datang berjumlah 66.911 orang dan 7.562 pengunjung berasal dari mancanegara yang kebanyakan berasal dari Cina, Jepang, Hong Kong, Malaysia, Amerika Serikat, Singapura, Korea Selatan, Filipina, Thailand, dan Indonesia.

Neraca perdagangan nonmigas Indonesia ke Taiwan pada 2015 mengalami surplus sebesar 514,5 juta dolar AS. Pada tahun yang sama Indonesia merupakan negara urutan ke-15 pemasok produk makanan olahan ke pasar Taiwan setelah Italia, Singapura, Jerman, Australia, dan Vietnam. Sementara, Taiwan merupakan negara ke-16 asal impor makanan olahan bagi Indonesia.

OJK Segera Terbitkan Aturan Kelembagaan BPRS


Jakarta - Ekbisinews.com -- Otoritas Jasa Keuangan (OJK) fokus meregulasi bank pembiayaan rakyat syariah (BPRS) tahun ini. Direktur Pengawasan, Perizinan, Penelitian, dan Pengembangan Perbankan Syariah OJK, Deden Firman Hendarsyah mengatakan, tahun ini OJK menargetkan bisa menerbitkan peraturan kelembagaan BPRS. Regulasi ini akan berbeda dengan bank konvensional karena tidak berupa paket kebijakan.

''Konvensional kan ada juga peraturan managemen risiko dan tata kelola, BPRS belum. Yang keluar baru kelembagaan BPRS. Isinya macam-macam, ada tentang modal, pengurus, dan lain-lain,'' ungkap Deden di sela-sela halal bi halal OJK di Kantor OJK, Jakarta, Selasa (12/7).

Peraturan kelembagaan BPRS ini ditargetkan selesai tahun ini. Selain itu OJK juga sedang melakukan kajian tentang rencana aksi di BPRS.

Kepala Departemen Perbankan Syariah OJK, Achmad Buchori menambahkan, tahun ini regulasi lebih banyak terkait BPRS mengingat regulasi BUS dan UUS sudah realtif cukup. Selain itu, Standar kompetensi kerja nasional Indonesia (SKKNI) BPRS mengingat SKNNI BPRS juga harus diperbarui.

Managemen risiko perbankan syariah yang masih bersatu dengan konvensional juga menyusul akan dipisahkan. OJK akan bekerja sama dengan Asbisindo untuk mengatur hal tersebut

( Sumber : Republika )

Ekonomi Islam

More »

Artikel

More »